Minggu, 17 Februari 2013
Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha
Satu malam yang tenang, langit bersih tampak bintang gemintang ribuah
Kisah Dahlan Iskan Menyiasati Kegagalan
Kisah Dahlan Iskan Menyiasati Kegagalan
Banyak orang yang terpuruk saat gagal. Sebaliknya, tak sedikit yang jumawa saat di puncak kesuksesan. Tapi, bagi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, meraih kesuksesan ibarat belajar naik sepeda: jatuh berkali-kali sampai bisa menunggangi.
Sabtu pekan lalu, dihadapan ribuan mahasiswa, Dahlan berkisah soal kesuksesan dan kegagalan.
Awalnya, ia risi juga ditanya atau diminta bicara soal kesuksesan yang ia raih. Saat bicara dalam talkshow "Public Figure on Talk" yang digelar BEM ITS, Surabaya, Dahlan mengaku ingin bicara soal kegagalan.
"Jadi undangan seperti itu tidak fair," kata Dahlan di gedung Robotika ITS Surabaya. "Tidak fair karena kegagalan saya juga banyak."
Mantan Dirut PT PLN itu menyebut satu contoh kegagalannya yang cukup besar, yakni saat dirinya mendirikan usaha Internet "Meganet" yang mengalami kerugian.
"Saat itu Internet belum disukai orang seperti sekarang, apalagi kemudian ada krisis di Indonesia. Perusahaan itu akhirnya saya lepas. Saya telah memulai dan saya harus mengakhiri daripada rugi besar," tutur pria kelahiran Magetan, Jatim.
Namun kegagalan itu tidak terlalu menjadi persoalan bagi perusahaan. "Ibaratnya, dosa saya kepada perusahaan itu Rp 100 miliar, tapi saya juga menghasilkan triliunan untuk perusahaan," ujarnya. "Ada prinsip mizan (keseimbangan)."
Cara seperti itu pula yang kini diterapkan saat dirinya dipercaya menjabat Menteri BUMN. "Garuda itu bangkrut, lalu saya tawarkan, tapi nilai sahamnya justru naik. Mungkin yang menawarkan dipercaya ya," ucap dia, tersenyum.
Kepada 1.600 mahasiswa ITS dan perwakilan mahasiswa dari Unair, UGM, ITB, dan sebagainya yang hadir dalam acara itu, Menteri yang juga jurnalis itu menegaskan bahwa cerita kegagalan itu penting.
"Ibarat belajar naik sepeda yang nggak ada sekolahnya, kita bisa naik sepeda kalau kita sudah berkali-kali jatuh. Yang penting jangan kapok (jera), sekali-kali rugi itu boleh karena namanya bisnis ya begitu itu. Ada juga kegagalan yang lebih gawat, yakni ditipu," tutur dia.
Dalam kegiatan yang dibuka Pembantu Rektor I ITS Prof Dr. Ing Herman Sasongko itu Dahlan Iskan mengatakan dirinya mampu menghadapi kegagalan karena banyak belajar tentang kehidupan dari sosok ayahandanya yang buruh tani dan tukang kayu yang kerjanya serabutan.
"Ayah saya itu pekerja keras, pagi sudah ke sawah sebagai buruh tani, lalu kalau tidak ke sawah ya bekerja sebagai tukang kayu, bahkan sering masih ke sawah pada malam hari. Kami miskin dengan hidup ala kadarnya," ucap dia.
Namun dirinya juga seperti ayahandanya yang tidak pernah merasa menderita, tidak pernah menderita karena lapar, dan tidak pernah ngomel karena kemiskinan dengan menyalahkan pihak lain. Bahkan kerja keras juga tidak merasa bekerja keras karena hal itu sudah menjadi kebiasaan.
"Akhirnya saya punya prinsip bahwa kalau miskin bermartabat dan kalau kaya bermanfaat. Kalau menyalahkan orang, ya tidak bermartabat," kata Dahlan yang DO (drop out) dari kuliah di Jurusan Tarbiyah karena sibuk menjadi aktivis pers kampus.| sumber: tempo.co
Senin, 04 Februari 2013
10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an: Kisah nyata Membesarkan Anak Menjadi Hafiz Al-Qur'an dan Berprestasi
Ibu Wirianingsih dan Pak Tamim adalah pasangan menikah yang kesehariannya jarang sekali di rumah mendampingi anak-anaknya yang jumlahnya sepuluh. Yang satu adalah pemimpin tertinggi salah satu organisasi Muslimah yang cabangnya meliputi 150 kota di Indonesia, sementara yang satu adalah anggota DPR-RI. Kesibukan keduanya ditambah lagi oleh kegiatan-kegiatan dakwah yang lain karena mereka berdua sama-sama aktivis dakwah. Namun demikian, di tengah kesibukan kesehariannya, mereka berdua mampu melahirkan anak-anak yang bak bintang-bintang cemerlang. Sebagian besar dari kesepuluh anaknya hafal Al-Qur'an. Lebih dari itu, anak-anak tersebut berprestasi luar biasa di dunia akademiknya.
10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an bertutur secara inspiratif kepada kita, di tengah kesibukan seperti apa pun. kita masih berkesempatan untuk menjadi anak-anak kita sebagai bintang. Buku ini berbagi kisah, bagaimana menularkan semangat dan mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak kita dan apa saja ikhtiar yang bisa ditempuh untuk mengantarkan putra dan putri kita menjadi hafiz Al-Qur'an, terutama ditengah budaya tontonan yang begitu gencar dan sangat vulgar.
Ke sepuluh anak Tersebut Bernama
1. Afzalurahman Assalam
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh 'Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8. Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh 'Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8. Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah
Ketika mereka bisa menghafal Al-Qur'an ,
Prestasi anak-anak ini bukan hanya di bidang ke agamaan saja namun
merambah ke dunia ilmu Pengetahuan Eksak . Ingin Tahu Lebih jelas sepak
Terjang Keluarga ini , Silahkan membaca bukunya . Mudah-mudahan
bermanfaat .
Riezka Rahmatiana,Inspirasi pisang ijo
![]() |
| Riezka Rahmatiana,Inspirasi pisang ijo |
Mirip semerbak keharuman bunga melati, gadis kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 26 Maret 1986 ini mengawali usaha kecilnya pada saat duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Kini, kartu namanya sudah tertulis Riezka Rahmatiana sebagai Presiden Direktur ”JustMine”.
Semangat kewirausahaan, begitulah yang mengawali Riezka. Awalnya, kata Riezka, adalah kesumpekan. Banting tulang orangtuanya dalam mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk menyekolahkan anak-anak, mendasari pikiran Riezka untuk berupaya agar dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Orang tua bekerja sejak pagi hingga larut malam. Hasil banting tulang seharian dilakukan untuk meraih gaji. Kemandirian wirausaha itulah yang secara diam-diam tumbuh dalam diri Riezka.
”Saya tidak mau menyusahkan orangtua. Berbekal modal awal Rp 13,5 juta, tahun 2007 bisnis makanan pisang ijo yang segar mulai menjadi pilihan untuk dipasarkan di Kota Bandung,” kata Riezka.
Ketika mengambil keputusan berwirausaha di sela-sela kuliahnya, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku mendapat larangan keras dari orangtuanya. Mereka menganjurkan dia agar mencari pekerjaan yang aman.
Riezka pun menuturkan jatuh dan bangunnya mencicipi aneka pekerjaan di sela-sela kuliahnya. Mulai dari menjadi anggota jaringan pemasaran alias multi level marketing (MLM), penjual pulsa telepon seluler, hingga menjajal bekerja di sebuah kafe. Dari sebagian menyisihkan penghasilan bekerjanya selama itulah, Riezka memulai usaha pisang ijo khas Makassar.
Tanggal 16 Maret 2009 menjadi momentum perjalanan wirausahanya. Riezka memang belum pernah ke Makassar, tetapi ketekunannya mencari penganan tradisional dan kemauannya untuk belajar memproduksi pisang ijo itulah menjadi modal dasarnya. Tanya-tanya resep pun terus dilakukannya.
Pisang dipandang sebagai bahan baku yang relatif murah dan selalu mudah diperoleh di pasar. Hanya dengan dibalut adonan tepung beras yang diberi warna hijau, sajian khas ini bisa mulai dipasarkan dengan nama tren Pisang Ijo.
Dari sanalah kreativitas Riezka bermunculan. Dari sajian pisang ijo orisinal, Riezka mengembangkannya dengan aneka rasa, seperti pisang ijo vanila, stroberi, coklat, dan durian. Semangkok pisang ijo yang disiram sedikit cairan fla yang gurih akan menjadi bertambah segar apabila ditambah pecahan es batu. Apalagi, kreativitasnya dilakukan dengan menambahkan serutan keju dan mesis coklat.
Penghasilan tak terbatas
Dorongan menjadi entrepreneur terjadi justru ketika Riezka membaca buku berjudul Cashflow Quadrant bahwa tidak ada karyawan yang bisa memperoleh penghasilan tak terbatas.
Benarkah hipotesis tersebut? Riezka membuktikan lewat ketekunannya. ”Kalau orang atau setidaknya orangtua saya bekerja dari pagi hingga malam, untuk pada akhirnya mencari penghasilan, saya justru sebaliknya. Kita semestinya tidak bekerja mengejar penghasilan, tetapi biarlah uang mendatangi kita,” ujar Riezka yang akhirnya mewaralabakan usahanya itu.
Dari usaha kecilnya ini, Riezka membuka peluang berinvestasi dengan sistem waralaba. Alhasil, dari satu gerai, kini ada 10 pewaralaba pisang ijo yang tersebar, terutama di kota Bandung, Jawa Barat.
Pemilihan mitra pun dilakukan selektif karena visi yang diemban adalah ”Kepuasan konsumen adalah kepuasan kami. Kesuksesan mitra adalah kesuksesan kami.” Pemilihan gerai bukan sekadar melihat berkas yang diajukan calon mitra, apalagi uang waralaba yang disiapkan mitra.
Melalui penelitian lokasi pasar, Riezka berani mengambil keputusan diterima atau tidaknya seorang mitra. Dia pun memprediksi, besarnya potensi pasar terhadap produknya di lokasi tertentu.
”Sasarannya tetaplah mahasiswa. Karena itu, lingkungan kampus menjadi target lokasi,” kata Riezka.
Bersama sahabatnya, Erwin Burhanudin, Riezka membangun sistem waralaba. Mereka pun mengaku tidak ingin gegabah memperoleh sebanyak-banyaknya pewaralaba. Kapasitas produksi tetap harus menjadi acuan usahanya.
Cepat atau lambat, Riezka yang murah senyum kini sudah mulai menuai hasil. Enam karyawannya ikut bekerja keras menunjang usaha waralabanya dengan memproduksi sekitar 500 porsi setiap harinya.
Soal keuntungan, pokoknya sangat menggiurkan. Sebagai wirausaha muda
yang berhasil masuk sebagai finalis tingkat nasional Wirausaha Muda
Mandiri 2008, Riezka hanya berharap, setitik perjalanan hidupnya bisa
memberikan napas kehidupan masyarakat sekitarnya.
Kalau kita ingin sukses, kita harus "bertanya" kepada orang yang diatas rata-rata ( orang yang lebih sukses ) dan "mendengarkan" nasihat mereka."
Kisah Sukses Anak Muda Bisnis Kebab Dalam empat tahun sudah 300 franchise di seluruh Indonesia.
Ardi, itulah nama panggilan dari pemilik franchise atau
waralaba Corner Kebab. Saat ini, di seluruh Indonesia, Corner Kebab
miliknya sudah mencapai 300 gerai sejak ia memulainya pada 2008.
Pria dengan nama lengkap Ardiansyah Murdiawan Saputra ini mengaku bahwa dirinya sebelum mendirikan franchise-nya, ia bekerja selama tiga bulan sebagai karyawan di Batam.
"Dulu, waktu baru lulus, saya bekerja di Batam tapi hanya tiga bulan karena sehabis itu resign," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, belum lama ini.
Saat bekerja sebagai
karyawan, Ardi menilai, kalau gaji yang diberikan perusahaan tempatnya
bekerja sangat cukup. Ditambah lagi dengan fasilitas seperti antarjemput
dan rumah yang juga disediakan oleh kantornya. "Gajinya waktu itu
sekitar Rp6-7 juta," ujarnya.
Gaji tersebut, menurut dia, memang diakuinya besar untuk fresh graduate
sepertinya. Namun, Ardi mengungkapkan kalau bukan persoalan gaji yang
ia cari. Untuk itu, membuatnya memilih keluar dari tempatnya bekerja.
"Saya bekerja setiap harinya bertemu dengan mesin, rutinitas yang sama, dan itu tidak menantang untuk saya,” ungkapnya.
Rutinitas seperti itu,
menurut Ardi, tidak membuat dirinya berkembang dan merampas hidupnya.
Dengan menjadi seorang wirausahalah, menurut pria kelahiran 30 tahun
yang lalu ini, ia bisa menjalani hidupnya dengan tantangan yang lebih.
"Apalagi yang saya temui setiap hari itu mesin, di situ saya merasa bosan," ingatnya sambil tertawa.
Walaupun demikian, Ardi mengatakan bahwa modal awalnya mendirikan usahanya ini berasal dari gajinya di perusahaan tersebut.
Dia menuturkan, baru memulai membuka usaha franchise
ini pada 2007 dengan membuka tiga gerai pertamanya. Kini, pada
September 2012, usaha Corner Kebab yang didirikannya telah mencapai 300
gerai lebih dan tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk per satu outletnya
Corner Kebab milik Ardi per bulannya rata-rata mempunyai omzet Rp11
juta. Padahal, modal awal yang digunakannya untuk membuka tiga gerainya
hanya Rp9 juta.
Sumber : Viva News .Com
Sumber : Viva News .Com
Minggu, 03 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)






