Kamis, 14 Juni 2012

Parfum, Disukai Tapi Berbahaya




Di balik semerbak harum wewangian ternyata mengintip segudang ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan. Bagaimana bisa terjadi?

Sejarah fragrans atau wewangian sebenarnya sudah dimulai sejak berabad-abad lalu. Cleopatra adalah salah satu pelaku sejarah penggemar wewangian. Sejak zaman sebelum Masehi pun sudah dikenal kemenyan yang kala itu diekstrak dari tetumbuhan.

Bangsa Mesir kuno memakai wewangian dalam acara ritual penguburan, selain sebagai simbol status sosial bagi si pemakai. Orang Yunani percaya, wewangian mampu jadi media kontak dengan dewa-dewi mereka. Orang Romawi memikat lawan jenisnya lewat wewangian. Namun menyusul runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan, fragrans dipakai untuk menutupi bau busuk penyakit.

Eropa mengenal fragrans justru dari orang-orang Timur, misalnya Arab. Dari mereka orang Eropa belajar cara menyuling minyak-minyak esensial menjadi wewangian. Venesia adalah kota pertama di Eropa yang mengawali perdagangan wewangian hingga menyebar ke kota-kota lain di Eropa.

Selama abad XIV fragrans lebih untuk keperluan pengobatan. Yang menarik, sepanjang dua abad setelah itu sejarah mencatat peningkatan pemakaian wewangian. Pasalnya, banyak orang kala itu percaya, mandi atau berendam di air tidak sehat. Pori-pori yang terbuka akan memudahkan penyakit masuk dan menginfeksi tubuh! Maka, banyak orang lama tak mandi. Untuk menutupi bau badan, dipakailah minyak wangi.

Baru setelah abad XVI fragrans mengawali zaman keemasannya. Kala itu banyak orang belajar sekaligus mengagumi "khasiat" fragrans sebagai pengharum, terutama sebagai parfum. Namun, hanya kalangan bangsawan dan kaum jetset yang sanggup membelinya. Harganya memang mahal karena faktor sulitnya menemukan oplosan yang tepat serta pembuatannya yang makan waktu lama.

Bahannya waktu itu terbanyak didapat dari tumbuhan atau hewan. Cara pembuatannya dianggap seni dengan cita rasa tinggi. Hingga kini pun persepsi itu masih berlaku, terutama untuk parfum kelas atas yang dibikin dalam jumlah terbatas atau menurut pesanan.

Sudah sejak akhir abad XVIII Prancis dikenal sebagai pusat parfum dunia. Juga untuk pertama kalinya fragrans dari bahan sintetis diperkenalkan. Contohnya parfum bermerek Chanel No. 5 buatan Prancis tahun 1921.

Sementara itu reputasi fragrans semakin menanjak. Tidak hanya sebagai bahan utama pembuatan parfum, namun juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Umpamanya, produk-produk perawatan tubuh seperti sabun dan sampo, industri perlengkapan rumah tangga macam pembersih lantai, industri makanan dan minuman seperti permen atau sirup, produk bahan bangunan seperti cat tembok, lilin, juga rokok, alat tulis macam bolpoin, kertas, karet penghapus, spidol, krayon, dan banyak lagi.

Yang alami dan sintetis
Fragrans itu "biang" segala wewangian. Semua yang berbau harum berasal dari fragrans. Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika, fragrans berarti semua substansi baik alami maupun sintetis yang semata-mata digunakan untuk memberi bau pada produk-produk kosmetik. Jadi produk kosmetik tak terbatas parfum, tapi juga meliputi sabun, sampo, dll.

Karena pengertian itu banyak kelemahannya, terbukalah peluang bagi para produsen kosmetik khususnya serta produk-produk lain. Fragrans pun digunakan dalam bahan-bahan pembersih rumah tangga seperti deterjen atau larutan pembersih peralatan dapur dan makan, yang sayangnya, bakal membawa masalah kesehatan maupun lingkungan.

Bahan dasarnya amat banyak. Bisa dari alam atau bikinan manusia (sintetis). Sumber alam kebanyakan dari tumbuh-tumbuhan atau hewan. Setelah lewat proses cukup rumit seperti distilasi dan ekstraksi, baru dihasilkan fragrans dalam bentuk konsentrat pekat. Sedangkan yang sintetis bahannya dari berbagai macam zat kimia yang sudah jadi. Sesudah melewati reaksi-reaksi kimiawi di laboratorium, dihasilkan konsentrat seperti yang alami tadi, namun dengan rumus kimia baru.

Meski yang sintetis dan alami tak banyak bedanya, harga fragrans sintetis jauh lebih murah, lebih mudah didapat, dan daya tahan baunya lebih lama. Karena itu hampir 80% produsen fragrans menggunakan bahan sintetis. Namun, yang natural tidak ditinggalkan 100%, karena ada bau-bauan tertentu yang tidak bisa dihasilkan melulu secara sintetis.

Ada fragrans yang diperdagangkan hanya dalam bentuk bahan "mentah". Pengusaha lain lalu membelinya untuk membuat parfum, cologne, eau de toilette, after shave lotion, atau produk kosmetik lain. Ada juga yang menambahkannya dalam sabun, sampo, pengharum ruangan, deterjen, cairan pembersih lantai, dsb.

Agar mudah dihirup, biasanya produsen menambahkan solvent atau zat pelarut yang mudah menguap. Yang paling banyak dipakai dari golongan hidrokarbon. Contohnya pada parfum, hair spray, deodoran, penghapus cat kuku, cairan pembersih rumah tangga, juga bolpoin wangi yang memabukkan itu. Hanya pada kasus ini konsentrasi fragrans lebih rendah dibandingkan dengan pelarutnya.

Bisnis multimiliaran dolar.
American Demographics edisi Juni 1997 pernah melaporkan begitu maraknya bisnis wewangian ini. Nilainya mencapai AS $ 5 miliar! Angka yang rasanya tidak masuk akal. Namun, bisa dipercaya bila dicermati. Ini memang bisnis yang merakyat. Bayangkan, dari parfum hingga kertas sekalipun bau harum bisa hadir di situ. Jadi, ini memang bisnis menggiurkan siapa saja dan di mana saja, termasuk Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang.

Pertumbuhan bisnis ini di Tanah Air masih akan berlipat ganda. Apalagi peraturan masih lemah dan kontrolnya amburadul. Mengkhawatirkan, karena jumlah konsumen makin berlipat karena hampir tiap orang memerlukan dan sanggup membelinya. Dengan begitu masalahnya pun jadi bertambah, terutama masalah kesehatan dan lingkungan hidup.

Celakanya, ada pebisnis nakal yang beorientasi pada keuntungan semata sehingga masalah yang ditanggung konsumen atau lingkungan bukanlah urusan mereka.

Lebih celaka lagi, dunia bisnis fragrans boleh dibilang hampir tak tersentuh kekuatan hukum, bahkan di negara maju sekalipun. Sebagai contoh Amerika. FDA tak punya wewenang sama sekali untuk mengatur bisnis ini. Alasannya, rahasia perusahaan.

Memang fragrans terdiri atas berbagai campuran substrat sehingga tiap fragrans menghasilkan bau khas dan individualistik. FDA hanya mewajibkan produsen mencantumkan kata "fragrans" pada produk berfragrans dan peringatan "Perhatian: keamanan kandungan produk ini belum dipastikan". Mirip peringatan pada bungkus rokok.

Bila masalah muncul setelah pemakaian produk di kemudian hari, konsumen bisa menuntut produsen ke meja hijau. Kasusnya perdata dan bersifat kasus per kasus. Bila pengadu menang, dia mendapat ganti rugi. Namun, bukan berarti nantinya seluruh produk itu harus ditarik dari peredaran. Prosesnya akan panjang dan perlu penelitian ilmiah lebih lanjut hingga benar-benar terbukti kandungan produk itu, terutama fragransnya, berbahaya bagi kesehatan atau lingkungan. Itulah aturan mainnya.

Untunglah, masalah ini disadari oleh para pebisnis fragrans. Khususnya perusahaan besar ternama dunia. Guna menjaga citra dan gengsi mereka, dibentuklah The Research Institute for Fragrance Materials (RIFM) pada 1966 dan International Fragrance Association (IFRA, Asosiasi Produsen Fragrans Internasional) tahun 1973.

RIFM adalah lembaga internasional independen yang tugas utamanya meriset bahan-bahan mentah fragrans sebelum dilempar ke pasaran. Parameter pengujian terutama adalah uji alergisitas dan fototoksisitas. Hasilnya dikirim ke IFRA, juga dipublikasikan dalam lembaran Food and Chemical Toxicology atau dapat diminta langsung pada RIFM.

Sedangkan tugas IFRA merekomendasi keamanan pemakaian material fragrans pada para anggotanya yang lebih dari 100 perusahaan mewakili 15 negara. Sayang, Indonesia belum tercatat di sana. Wakil dari Asia pun hanya Jepang dan Singapura. Daftar materi fragrans yang telah direkomendasi ada dalam terbitan Industry Guidelines to Restrict Ingredient Usage. Sejak Desember 1995 ada 35 bahan yang dilarang pemakaiannya dan 53 bahan dengan pemakaian terbatas pada produk-produk tertentu.

Gangguan kulit dan saraf
Sepintas, regulasi internal mereka berjalan efektif, meski hanya berdasarkan tanggung jawab moral dan tidak melibatkan kekuatan hukum. Sayang, kenyataannya tidak begitu! Walaupun dalam tubuh RIFM ada tim terpadu yang melibatkan berbagai ahli independen, seleksi bahan yang diuji bukan mereka yang menentukan. Sementara bagian yang menentukan itu tidak punya sistem solid untuk menentukan bahan mana yang seharusnya diuji karena berpotensi menimbulkan masalah.

Kelemahan berikutnya adalah cara pengujian, yang sebagian besar difokuskan pada paparan dan akibat yang timbul pada kulit. Paparan lewat saluran pernapasan atau saluran cerna biasanya tidak dilakukan. Padahal masalah kesehatan juga bisa muncul lewat kedua jalur itu dan efeknya lebih sistemis dan kronis.

Kelemahan dalam tubuh IFRA pun ada. Asosiasi ini tak punya wewenang untuk "menghukum" anggotanya, dan tak berhak memantau mereka bila rekomendasinya dilanggar. Tak heran jika masalah masih tetap bermunculan. Terutama masalah kesehatan.

Salah satu laporan RIFM menyebut kerugian material akibat gangguan kesehatan gara-gara fragrans cukup besar. Padahal itu berkaitan dengan fragrans yang sudah lolos dari RIFM. Sekitar 35 juta orang AS menderita rhinitis alergik, dan penanganannya menelan biaya AS $ 8 miliar/tahun. Sekitar 1.000 pekerja harus absen kerja karena menderita migren, dan akibatnya AS $ 5 miliar melayang. Asma dan penyakit paru-paru kronis meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir.

Banyak penelitian menunjukkan, fragrans memiliki dampak buruk terhadap kesehatan. Studi mendalam oleh U.S. Environmental Protection Agency (EPA) pada 1991 menunjukkan, aseton yang biasa digunakan dalam deterjen, cologne, dan terutama zat penghilang cat kuku bisa menimbulkan gejala mual, pusing, dan mampu menekan fungsi susunan saraf pusat, termasuk otak dan saraf tulang belakang.

Parfum dianggap polutan
Yang paling dikhawatirkan para pakar lingkungan justru dampak polutan fragrans, di samping pencemaran lingkungan langsung akibat tidak memadainya pengolahan limbah industri. Selain belum ada peraturannya, juga belum bisa didaur ulang dan terus-menerus bersirkulasi dalam air (polusi akuatik). Dalam kasus parfum, setelah menguap fragrans bereaksi dengan substansi lain di udara. Reaksi ini menghasilkan substansi baru yang dapat larut dalam air.

Di Amerika Serikat sekarang sedang marak isu kampanye antiparfum karena bau harum sudah dianggap "polutan". Tak semua orang tahan terhadap bau parfum tertentu, dan terkadang berakibat munculnya gangguan kesehatan. Celakanya, kita tidak bisa meminta orang untuk menghilangkan wewangian yang sudah telanjur teroles di tubuhnya seperti halnya meminta orang untuk mematikan rokok, misalnya.

Sadar akan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan, konsumen menjadi makin berhati-hati dalam memakai produk berfragrans. Produsen pun tak kurang akal. Telah banyak beredar di pasaran produk berlabel "hypoallergenic, "for sensitive skin", sampai "dermatologist tested", "dermatologist recommended", bahkan "fragrance free".

Itu sah-sah saja. Sebab, dalam rumusan FDA fragrans adalah materi yang dicampurkan semata-mata untuk menghasilkan bau-bauan. Padahal fragrans bisa berfungsi ganda. Selain sebagai penyebar bau harum, juga dapat sebagai bahan pengawet. Jadi, meskipun produsen mengklaim produknya "bebas fragrans", sesungguhnya masih terkandung fragrans dalam "topeng" lain.

Jangankan konsumen awam, dokter kulit atau ahli fragrans sekalipun tidak tahu apa saja yang tersembunyi dalam produk berfragrans kendati sudah dicantumkan seluruh kandungan pada labelnya, misalnya. Kecuali memakai alat canggih seperti gas chromatography-mass spectrometric analysis yang amat mahal itu.

Bisa dibayangkan rumitnya dunia bisnis fragrans ini. Di negara-negara maju dengan peraturan-peraturan dan hukum yang sudah kukuh, bisnis fragrans belum dapat benar-benar dijamah. Bagaimana pula di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia? (dr. Kristijanto Adimoelja, bekerja di Center of Dermatology and Andrology, University of Giessen, Giessen, Jerman)

Sumber :  Eramuslim.com

Meraup Pahala Lewat Bersin



Muslim Muda…haaaatciin… aktivitas yang satu ini sangat sering kita lakukan bahkan hampir setiap hari, terkadang saat belajar, lagi di mushollah, sementara berkendaraan etc.
Hal yang sepele ini sebenarnya bisa mendatangkan banyak pahala, gak tanggung-tanggung pahalanya gedde banget.
Muslim Muda….karena keseringannya maka peluang untuk mendapatkan pahalapun sangat besar asalkan nih tetap memperhatikan adab-adabnya. Untuk lebih jelasnya cekidot aja deh..

1.  Mengucapakan Alhamdulillah

Sebagian orang nih apabila bersih terkadang mengucapakan hal-hal aneh, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita mengucapkan hamdalah “Alhamdulillah” saat bersin

2.  Mengucapkan Yarhamukallah
Buat kalian yang mendengarkan orang lain bersin dan mengucapkan “alhamdulillah” maka kalian kudu menjawabnya dengan “yarhamukallah”

3.    Mengucapkan Yahdikumullahu wayushlihubaalakum

Buat yang bersin tadi, apabila mendengarkan orang lain mengucapkan “yarhamukallah” maka dia harus mengucapkan “yahdikumullaju wayushlihubaalaakum”

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah :Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), maka hendaklah saudaranya menjawab :Yarhamukallah (semoga Allah merahmati engkau). Apabila ia mengucapkan Yarhamukallah, maka ucapkanlah(orang yang bersin) untuknya : Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum (semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki segala keadaan kalian)”  (HR. Bukhari)

Penting juga nih…apabila orang yang bersin, kemudian bersinnya sudah lebih dari 3x maka sang pendengar (kaya radio aja nih) tidak perlu menjawab lagi cukup didoakan karena saudara kita itu kayanya akan kena flu, jadi katakana saja “Syafakallah” (semoga Allah menyembuhkanmu)

Dengan mengamalkan ini, insya Allah kalian akan meraup banyak pahala

Wallahu a’lam

Ternyata Al Qur’an Bisa Menghilangkan Depresi

Ternyata Al Qur’an Bisa Menghilangkan Depresi

Muslim Muda…kalau kalian pernah baca artikel rumah rohis ternyata musik bisa menyebabkan depresi maka paralel dengan tulisan ini ternyata dengan membaca Al Qur’an akan menghilangkan depresi
Membaca Al Qur’an bisa menjadi solusi untuk depresi, ada sebuah cerita yang terkenal akan keutamaan membaca ini.
Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah area perkebunan area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya.
Setiap pagi sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.
Suatu hari ia bertanya pada kakeknya: ”Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya. Dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya?"
Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”
Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali.“ Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.
Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya. Kakeknya mengatakan : “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras.”
Si kakek pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil dan mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi.
Dengan terengah-engah, ia berkata : “Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.
Sang kakek menjawab : “Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”
Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.
”Cucuku, apa yang terhadi ketika kamu membaca Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupan kamu."

Referensi : eramuslim.com

Bertobatnya seseorang yang telah membunuh 99 nyawa manusia



Abu Said (Sa’ad bin Malik bin Sinan) Alkhudry berkata: Bersabda Nabi SAW: Dahulu pada ummat-ummat yang terdahulu, terjadi seorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertobat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukkan pada seorang pendeta, maka ia bertanya: Bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab pendeta: Tidak ada. Maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian mencari orang alim lainnya, dan ketika telah ditunjukkan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab si Alim: Ya ada, dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertobat? Pergilah ke dusun itu karena di sana banyak orang‑orang ta’at kepada Allah, maka berbuatlah sebegaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat. Maka pergilah orang itu.

Tatkala di tengah jalan, mendadak ia mati. Maka bertengkarlah Malaikat rahmat dengan Malaikat siksa. Berkata Malaikat rahmat: Ia telah berjalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya. Berkata Malaikat siksa: Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali. Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia dan dijadikan­nya sebagai juri (hakim) diantara mereka.
Maka ia berkata: Ukur saja antara dua dusun yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebih dekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana. Maka diukurnya. Didapatkan lebih dekat kepada dusun baik, yang ditujunya, kira‑kira sejengkal, maka dipegang ruhnya oleh Malaikat rahmat.   (Buchary, Muslim).
Dalam riwayat lain: Allah memerintahkan kepada bumi yang dituju supaya mendekat, dan menyuruh bumi yang ditinggalkan supaya menjauh. Dalam riwayat lainnya: Maka condong dadanya dengan kearah dusun yang dituju, maka diampunkan baginya.
[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]

Senin, 11 Juni 2012

“Mimpi Tidak Harus Menyesuaikan Kemampuan, Tapi Usaha yang Harus Meraih Mimpi itu”



 

Renungan Kehidupan
Setelah sholat malam…, ditengah keheningan malam…coba diri ini merenung…tentang :
1.Kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba yang tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia?
2. Mata kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
3. Telinga Kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan utk mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
4. Hidung Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak yatim piatu yang sangat kehilangan kedua orangtuanya dan sangat mendambakan cinta bunda dan ayahnya?
5. Mulut kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
6. Tangan Kita! Apakah sudah kita gunakan utk bersedekah kepada dhuafa, membantu sesama yang kena musibah, membantu sesama yang butuh bantuan, mencipta karya yang berguna bagi ummat atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta orang yang tak berdaya?
7. Kaki Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermanfaat, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
8. Dada Kita! Apakah didalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?
9. Perut kita! Apakah didalamnya diisi oleh makanan halal dan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal sehingga semua terasa nikmat dan barokah. Atau didalamnya diisi oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, dengan segala ketamakan dan kerakusan kita?
10. Diri kita! Apakah kita sering tafakur, tadabur, dan selalu bersyukur atas karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?
(Dari berbagai sumber, dgn sedikit ‘editing’ tanpa mengubah makna aslinya)

Rendah hati



Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Di kitab "Ta'lîm al-Muta'allim" terdapat syair tentang kerendahan hati
yang berbunyi :
Sesungguhnya rendah hati adalah salah satu ciri orang yang bertakwa
Dengannya, orang yang bertakwa mencapai derajat kemuliaan

Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya;
dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya. (HR Abu Nu'aim)

Kedermawanan adalah ketakwaan, kemuliaan adalah tawadhu' dan keyakinan
adalah kekayaan. (HR Ibnu Abi Dunya dan Hakim)

BY : OKSI JS

Ukuran Rezeki


Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

BY : OKSI JS



 

Blogger news

Blogroll

Blog Archive